Jumat, 02 Desember 2011

In This Craziness, YOU gave me life...

Today is the day that reminds me of the long twenty three years I've spent living in this world, struggling with everything around, fighting with the contradictions in myself, knowing the words 'care', 'love', 'like', 'hate', 'grateful' that always are twirling and twirling around my life, changing their forms into others but I just know although like that, it doesn't mean the meaning of each words ceases away...

Lord, The ALMIGHTY EXISTENCE above all else
I'm grateful to YOU for giving me a chance to live this life
although, I'm just a sinner, YOU still guide me
then, from now on, please guide me, please forgive me, please take a notice of me, please remind me,
...please make me always close to YOU
...
AMIN...

Satu langkah kujejakkan ke depan, mulai meninggalkan bayang-bayang kekanakan yang makin mengabur di belakang namun masih kugenggam erat-erat karena tak ingin kujauhkan semua itu dari diri.

Masih dalam ketidakpastian, aku menentang ke depan dengan keraguan dan kebingungan. Akan tetapi, kucoba meraup segenggam keberanian tersisa dan menghempaskannya ke hati agar ia tetap bisa mendorong raga untuk terus melangkah.

Walau penuh dengan dusta dan nista, dunia ini memberiku kebahagiaan yang sejati...
Ada benang-benang merah yang dengan lembut terjahit pada diri; benang-benang kasih sayang dari orang-orang yang kerap memberiku inspirasi. Orang-orang yang berharga. Karena itu, terima kasih, dunia...

Terima kasih, 'HIDUP'...

Aku masih akan terus melangkah...

Lord, the ALMIGHTY EXISTENCE above all else, please bless me to live in this world, once more...

Senin, 28 November 2011

Dalam Rintik

Satu tetes.

Dua tetes.

Tiga, empat, lima, dan dengan segera ratusan tetes air luruh dari langit abu. Hujan kembali menghantam bumi yang perlahan membisu karena bunyi kini sepenuhnya milik sang air langit; bergemericik-gemerecak bising namun tetap terkesan sunyi karena gemerecak hanyalah akan menjadi percik berima yang tak akan pernah membuat jengah.

Harum tanah menguar, membawa nostalgi yang menenangkan sekaligus mengaburkan perasaan. Kuyu pepohonan terlihat menyedihkan. Warna bias tampak menyakitkan. Hati seolah terselimuti kabut air yang meresap, memberati diri sehingga enggan beranjak dari tempat berpijak, dari tempat terpaku, dari tempat tergagu. Tetap di sana, mematung; hanya mendengar, hanya melihat, hanya meresapi dunia baru (dunia hujan; dunia yang terselimuti air langit yang membentuk tirai, berberai menjadi kabut, bercerai menutup menyembunyikan wajah sejati dari bumi; sang ibu yang tersakiti).

Hujan selalu membawa dilema. Air yang menerpa raga. Bunyi rintik yang bergemuruh riuh di kepala. Dingin yang mencabuli sampai sumsum tulang. Walau mencoba tegar, kita selalu terkalahkan. Dan melankolisme pada akhirnya senantiasa dapat merayap ke permukaan emosi meski telah dihalau dan tidak terindahkan. Pada akhirnya, bias sayu selalu berpendar di bola mata, walau tersamarkan oleh kelopak yang sedikit merunduk layu akibat rasa kantuk yang kerap menyerang, melemahkan.

Dalam buaian lagu gemericik, biarkan aku menutup mata, mengistirahatkan diri sambil memeluk perih melankolisme yang telah sepenuhnya menguasai hati. Enggan beranjak, hanya tergagu, mematung, merasakan dunia baru yang diciptakan hujan dengan keseluruhan eksistensi yang ada dalam kerangka raga. Meratapi hidup, meratapi diri, meratapi bumi, meratapi hujan yang akan berakhir.

Dan sementara itu...

Rintik terus membising.

Satu tetes.

Dua tetes.

Ratusan.

29-11-2011
by Natsu^^v

Minggu, 27 November 2011

(story) AMAYADORI

sebenarnya ini adalah fanfiction yang saya buat setengah tahun yang lalu
tapi... saya berpikir bahwa ini bisa saja merupakan original fiction dikarenakan deskripsi yang tidak terlalu menjelaskan identitas tokoh-tokohnya ="))

dan... intinya, saya hanya ingin berbagi saja karena ini merupakan karya yang sangat berkesan bagi saya <-- narsis #whacked ="DDDDD

...silahkan...


Amayadori

Sounds of raindrops clashing the umbrella I hold ring loudly into my ears as if wanted to completely make me deaf of any other sounds; even his breathes and my heart beats. I watch my slow hesitant steps and his steady ones and feel nothing but the cold water splashing, dripping my shoes wet and freezing my feet. The reflection of me and him and our umbrellas on the pounds blur into abstract colors. I stare at it with blank eyes—

He halts. I stop. I tilt my head at his direction and find a gentle little smile and slight cloudy eyes. There is somewhat a glint of a flash flooding emotion in his eyes but no voice is slipped through the thin lips that still curve unwaveringly in a smile. I nod slightly, averting away my gaze as I know what he means in the noisy silence.

We turn, heading towards the nearest shelter of a closed convenient store, folding our umbrellas and leaning them against the wall.

Jumat, 11 November 2011

Kembali Menjadi Hipokrit

Ini sama sekali bukan kehendak saya. Sebenarnya, tak ada satu pun kata-kata penyemangat atau penghiburan kosong yang ingin saya sampaikan; pada kalian yang tetap berjuang dalam hidup untuk tetap 'hidup, pada kalian yang masih terus berlari walau bayang-bayang putus asa serta kekhawatiran perlahan mengendap dalam hati.

Sebenarnya, tak ada satu pun kata-kata indah yang berhak untuk saya luncurkan melalui mulut ini, melalui hati yang berkali-kali terlemahkan, berkali-kali terkalahkan oleh kuasa 'hidup' dan keterbatasan 'diri'.

Akan tetapi, biarkan saya mengatakan ini saja, "Mari berjuang!"

Ya, marilah berjuang bersama menghadapi 'hidup'. Saya tak akan bilang 'jangan putus asa' walaupun saya ingin kalian tidak membiarkan keputusasaan menggerogoti semangat untuk berjuang melawan arus 'kehidupan'.

Kalian boleh menangis

Kalian boleh mengeluh

Kalian boleh mengutuk

Tapi waktu tetap akan berjalan, dengan keangkuhannya serta kebaikannya yang tak akan pernah kalian duga. Waktu tetap berjalan, di saat kalian menangis, di saat kalian mengeluh, di saat kalian mengutuk.

Dan aku tidak akan mengatakan "Tidak apa-apa, ada aku di sini". Karena teman yang paling bisa kalian andalkan bukanlah eksistensi-eksistensi di luar diri yang mungkin kalian anggap penting. Teman yang hanya bisa kalian andalkan, pada akhirnya hanyalah diri kalian sendiri.

Diri kalianlah yang menentukan apakah kalian akan menjadi pemenang dalam kehidupan kalian masing-masing. Dan aku tidak akan mengatakan bahwa 'menang' berarti menjadi 'hebat'. Tidak ada yang bisa mendefinisikan hal tersebut terkecuali diri kalian sendiri. Sampai mana? Sampai kapan? Sampai seperti apa? Tentukanlah.

Dan tetaplah berjuang!

...

Lalu, maafkanlah saya karena berlaku seperti hipokrit... Saya juga merasa ini menggelikan tapi saya tidak bisa menahan diri; karena kata-kata di atas pun merupakan tamparan keras bagi saya.

Ya, mari berjuang!

Kamis, 27 Oktober 2011

Obrolan di Sore Hari: I Love You Mom, always...

Saya sangat suka mengobrol dengan Ibu saya. Entah karena beliau merupakan Ibu saya (notabene salah satu orang yang paling mengerti saya), ataukah karena memang saya nyaman dengan beliau karena kami memiliki banyak persamaan dalam hal apapun, terutama sifat dan kesenangan untuk mengeksplorasi masalah sifat manusia.

Kepada saya yang lumayan anti sosial, Ibu saya memberikan motivasi tanpa menyalahkan kelemahan saya untuk berinteraksi dengan 'dunia luar'. Kepada saya yang OCD, Ibu saya memahami dan mengatakan bahwa itu hal biasa asal masih dalam ruang lingkup yang wajar. Kepada saya yang cengeng dan lemah ini, Ibu saya memberikan kepercayaan penuh bahwa sebenarnya saya kuat dan bisa melampaui segalanya dengan lapang dada dan pikiran yang jernih.

Saya banyak sekali terbantu oleh kata-kata beliau yang seperti itu. Mungkin, Ibu saya bukan tipe yang overprotektif maupun posesif maupun pencemas yang sedikit-sedikit menjejakkan kakinya ke 'area' yang berlabel privasi, juga bukan tipe yang terlalu cuek membiarkan anaknya melakukan apa yang disuka dan hanya memberikan peringatan jika kelewatan. Beliau tipe yang menghargai privasi melebihi apapun, dan hal itu juga diwarisi pada anak-anaknya. Namun, beliau juga tipe yang sangat perasa dan paling memikirkan keluarga. Saya sangat mengerti hal itu, karena beliau Ibu saya.

Ibu saya merupakan sosok idola saya, walaupun tak pernah saya lafalkan selama ini tapi dalam hati saya selalu berharap ingin menjadi seperti beliau. Mungkin beliau tidak pernah tahu kekaguman saya ini karena sifat saya yang cenderung kontradiktif, cenderung 'menolak' apa yang sebenarnya saya rasakan (entah itu karena didasari rasa malu atau rasa tidak perlu untuk menunjukkannya mentah-mentah ke dalam segala ucapan dan tindakan). Meskipun, dalam keluarga saya selalu dibilang anak Ayah, tapi saya merasa lebih dekat pada Ibu saya (walaupun beliau memang jarang menghubungi saya dibandingkan Ayah). Hal itu tidak berubah. Ah, tapi bukan berarti saya tidak menyayangi Ayah. Ini bukan masalah pembagian kasih sayang. Tapi, masalah 'pengertian' atau 'pertautan hati'. Saya lebih merasa dekat dengan ibu.

Mom, even though you know I'm always contradicting with my life
Even though you understand what a coward girl I am in real life
Even though I know you're tired with my whines and complains
You're still supporting me...
You're still acknowledging me...
You're still by my side...
I love you always, Mom
Not because you're still doing those above though I'm not even a good daughter
But because you're my Mom
...
I'm very grateful, Allah, for making her my Mom ="))

Senin, 10 Oktober 2011

Nyawaku... Ada di Mana?

Simpanlah dulu kebingungan akan judul aneh itu karena saya juga tidak akan bisa menjawab kenapa memilih judul seperti itu untuk tema entri ini. Sebut saja karena saya sudah kehabisan ide untuk membuat judul yang bagus, atau karena saya sedang ingin membuat judul yang agak sensasional (walaupun saya sendiri sangsi akan hal ini).

Kesampingkan dulu perihal judul. Intinya. Titik.