Satu tetes.
Dua tetes.
Tiga, empat, lima, dan dengan segera ratusan tetes air luruh dari langit abu. Hujan kembali menghantam bumi yang perlahan membisu karena bunyi kini sepenuhnya milik sang air langit; bergemericik-gemerecak bising namun tetap terkesan sunyi karena gemerecak hanyalah akan menjadi percik berima yang tak akan pernah membuat jengah.
Harum tanah menguar, membawa nostalgi yang menenangkan sekaligus mengaburkan perasaan. Kuyu pepohonan terlihat menyedihkan. Warna bias tampak menyakitkan. Hati seolah terselimuti kabut air yang meresap, memberati diri sehingga enggan beranjak dari tempat berpijak, dari tempat terpaku, dari tempat tergagu. Tetap di sana, mematung; hanya mendengar, hanya melihat, hanya meresapi dunia baru (dunia hujan; dunia yang terselimuti air langit yang membentuk tirai, berberai menjadi kabut, bercerai menutup menyembunyikan wajah sejati dari bumi; sang ibu yang tersakiti).
Hujan selalu membawa dilema. Air yang menerpa raga. Bunyi rintik yang bergemuruh riuh di kepala. Dingin yang mencabuli sampai sumsum tulang. Walau mencoba tegar, kita selalu terkalahkan. Dan melankolisme pada akhirnya senantiasa dapat merayap ke permukaan emosi meski telah dihalau dan tidak terindahkan. Pada akhirnya, bias sayu selalu berpendar di bola mata, walau tersamarkan oleh kelopak yang sedikit merunduk layu akibat rasa kantuk yang kerap menyerang, melemahkan.
Dalam buaian lagu gemericik, biarkan aku menutup mata, mengistirahatkan diri sambil memeluk perih melankolisme yang telah sepenuhnya menguasai hati. Enggan beranjak, hanya tergagu, mematung, merasakan dunia baru yang diciptakan hujan dengan keseluruhan eksistensi yang ada dalam kerangka raga. Meratapi hidup, meratapi diri, meratapi bumi, meratapi hujan yang akan berakhir.
Dan sementara itu...
Rintik terus membising.
Satu tetes.
Dua tetes.
Ratusan.
29-11-2011
by Natsu^^v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar