Kesampingkan dulu perihal judul. Intinya. Titik.
Kejadiannya di suatu siang yang panas, tapi tidak pernah teringat oleh saya akan silaunya terik matahari karena waktu itu saya sedang mengunjungi kamar salah satu teman penghuni kos saya. Pintu tertutup, gorden pun rapat menghalangi cahaya. Dan tanpa perduli keremangan, seperti biasa kami mengobrol macam-macam.
Lalu entah kenapa, topik pembicaraan beralih pada 'orang yang paling penting dalam kehidupanmu'. Saat itu, saya hanya mendengarkan ocehan teman saya tentang adiknya yang sangat dicintainya sehingga ia pun mendeklarasikan pernyataan yang cukup mengejutkan. "Kalau adikku mati, aku pun akan ikut mati. Kalau ingin meruntuhkanku, runtuhkan adikku"
Tentu saja, saya tercenung di tempat. Dan ia masih dengan senyum lebar dan mata yang memancarkan kesungguhan, mengangguk-angguk antusias sambil menambahkan beberapa pernyataan lain yang mendukung pernyataan mengejutkan tadi.
Benar-benar, saya hanya bisa tercenung lalu bertanya sekadarnya tentang bagaimana orang tua, teman, atau bahkan pacar, dan ia tetap bersikukuh bahwa adiknya nomor satu. "Nyawaku ada padanya" Ia berkata seperti itu.
Tidak terlalu mengejutkan, katamu? Baiklah, tidak apa-apa, perbedaan pendapat akan selalu ada ="))
Kemudian kepada saya yang masih terpaku di sana, ia balik bertanya. Hal yang sama. Dan tak bisa saya pungkiri, pertama kali tertodong pertanyaan semacam itu membuat saya panik dan galau. Lalu, saya menjawab "Orang tua, tentu saja. Lalu, kakak saya" Setelah itu, tanpa disadari seolah mengalir begitu saja, kata-kata yang mendukung pernyataan saya itu terlontarkan dengan lancar.
Ya, saya mencintai keluarga saya. Saya menyayangi mereka. Saya menganggap mereka nomor satu. Mereka yang paling mengerti saya. Mereka nomor satu. Sembari mengoceh, di pikiran, saya absen satu-satu perasaan seperti itu.
Namun...
Aneh. Ketika saya ingin berkata 'Nyawa saya ada pada mereka', kata-kata itu tersangkut di pangkal tenggorokan. Saya mulai takut. Tipe paranoid seperti saya, bahkan hal sekecil itu pun membangkitkan kecemasan tersendiri. Bukan. Bukan karena saya tidak mampu untuk mengatakan hal tersebut.Bukan saya takut kehilangan nyawa karena keluarga. Tapi saya takut bahwa kata-kata itu merupakan kebohongan. Saya takut karena lagi-lagi akan membiaskan kejujuran pada diri.
Nyawa saya...
Nyawa saya tidak ada pada mereka.
Dingin, kau bilang? Kejam, kau bilang? Tidak apa-apa. Tapi itu yang sebenarnya saya rasakan.
Nyawa. Mengeja kata tersebut, saya mulai berpikir. Pada siapa, pada apa, di mana, nyawa saya berada? Apa yang sampai akan membuat saya ikut mati jika tidak ada? Dan, hanya satu kesimpulan yang bisa saya jawab:
Nyawa saya ada pada diri saya. Dan diri saya sepenuhnya milik Sang Pencipta.
Jika ingin meruntuhkan saya, runtuhkanlah kepercayaan saya akan Sang Khalik, runtuhkanlah diri saya sendiri (karena tanpa jasad dan identitas diri serta nurani, saya bukan apa-apa lagi).
Tapi, kata-kata itu, kalimat itu, opini itu, saya telan kembali ke dalam hati. Sebagai gantinya, saya tersenyum dan dengan sedikit bercanda berkata, "Walau kau bilang begitu, tetap saja kau selalu menggoda adikmu!" Tertawa, jelas mengalihkan topik pembicaraan.
10-10-2011
Natz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar