Ayah dan Ibu yang baik, anakmu ini telah kurang ajar.
Di saat semua sedang bertarung dengan kenyataan yang mereka hadapi, di saat hanya dunia yang menjadi musuh abadi, saya di sini tergeletak babak belur, kalah bertarung dengan diri sendiri, tanpa sempat mampu melangkah maju untuk menghadapi segala yang ada di luar kerangka diri.
Ayah dan Ibu yang baik, tolong anakmu yang tak berguna ini.
Karena kekuatan untuk sekedar berjuang pun telah menguap dari hati yang lemah, dari pikiran keruh, dari jiwa yang sudah terlanjur terperangkap dalam gelap yang tercipta dari kesalahan-kesalahan yang menumpuk serta ketidakacuhan karena arogansi yang tidak perlu. Kini, saya hanya ingin menutup diri dari semua pasang mata, dari riuh kata-kata asing yang kerap kali berkesan memojokkan, meremehkan, menyalahkan, padahal saya hanya ingin dimaafkan.
Ayah dan Ibu yang baik, maafkan anakmu ini.
Yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Yang hanya mengerti dengan kepala bukan dengan hati bahwa semua harus diraih dengan perjuangan yang keras bahkan kadang sampai ingin mati. Saya malah terhenti di pangkal jalan yang penuh duri tanpa berani melangkah meskipun ingin saya paksakan kaki yang membeku untuk mulai menginjak dan membiarkannya berdarah agar saya bisa terus maju. Saya tidak sanggup untuk melakukan itu dikarenakan kelemahan yang tercipta dari kesalahan-kesalahan menumpuk serta ketidakacuhan akibat arogansi yang benar-benar tidak perlu.
Saya sudah keliru mengancingkan kemeja. Ada satu lubang yang terlewat dan semuanya menjadi salah posisi. Saya hanya ingin melepas semua dan kembali mengancing dari awal, tapi semua sudah terlambat karena kancing yang sudah terpasang sudah terjahit oleh benang besi berkarat sehingga susah untuk melepas tanpa merusak apapun. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa tetapi pada kenyataannya tanpa saya sadari saya selalu mencari celah untuk bisa menyalahkan orang lain, termasuk kalian, padahal semuanya hanyalah dikarenakan kelemahan yang membiarkan diri babak belur oleh ego sendiri.
Maafkan anakmu ini.
Yang hingga kini masih menggali dengan tangan penuh lumpur esensi hidup apa yang saya jalani sebenarnya, tanpa bisa melakukan apa yang saya sukai, tanpa bisa satu kali pun bisa memperjuangkan apa yang saya sukai, tanpa bisa jujur pada diri sendiri serta dunia luar mengenai apa sebenarnya diri ini. Yang terus menipu diri dengan berkedok bahwa saya melakukannya berangkat dari niat baik, padahal itu hanyalah untuk kepuasan diri karena merasa telah cukup berguna padahal sama sekali tidak demikian. Saya masih belum bisa dikatakan berguna karena saya masih lemah, bahkan untuk memperjuangkan diri sendiri dan kerap kali mengulurkan tangan, meraih keberadaan kalian, meminta perlindungan, meminta pengakuan.
Bahkan saya telah kurang ajar pada Tuhan.
Saya berusaha keras meyakinkan diri saya telah melakukan apapun untuk menghargai, tapi sebenarnya itu hanya pembenaran terhadap dosa-dosa terbesar yang sedang saya lakukan--menyakiti diri, dengan berkali-kali membiarkan diri terlemahkan. Seharusnya saya berjuang jika saya ingin benar-benar menghargai hidup, tapi bahkan saya telah kehilangan dorongan apapun untuk melakukan itu. Saya seperti selongsong peluru yang kosong yang berdebu dalam senapan yang tidak pernah digunakan, hanya berharap untuk dimaafkan, untuk dibersihkan, untuk disimpan dalam peti beludru, ditutup rapat dan tidak pernah dibuka kembali.
Astagfirullah.... berkali-kali saya mengucapkan pengampunan, serasa tidak akan pernah cukup... tidak akan pernah cukup.... tidak akan pernah cukup... karena kini tidak ada lagi keinginan untuk terus melangkah menentang dunia dan menempuh jalan berduri yang membentang di hadapan. Satu-satunya jalan agar bisa termaafkan saat kancing kemeja sudah terlanjur salah pasang.
Tuhan yang Maha Penyayang.
Ayah dan Ibu yang baik.
Tolong saya.
Maafkanlah saya dan buatlah saya memaafkan diri saya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar