Kini, bukanlah kata-kata penghiburan bias yang ingin saya sampaikan. Ada beberapa hal yang selama ini meriuh di pikiran dan bergelegak dalam hati. Saya hanya manusia, saya perlu untuk menuangkan cawan diri yang penuh ini demi mendapatkan suatu kekosongan yang lapang, yang dapat menampung apa yang selama ini tidak mampu masuk karena akan segera menggelincir tumpah (terutama logika dan emosi 'menerima').
Saya hipokrit. Saya selalu menjadi hipokrit. Saya akui hal tersebut. Saya membenci sifat saya yang demikian namun tidak mampu melakukan apa-apa terhadapnya karena itulah saya; salah satu perca yang melengkapi jati diri (tak tergantikan).
Kau boleh menertawakan saya, mencaci saya karena hal tersebut. Saya tidak perduli, karena saya sudah sering dicaci oleh diri saya sendiri.
Baiklah. Saya akan mulai menyentuh bagian pinggir cawan penuh air itu lalu memiringkannya agar semua mengalir.
'Talk Less Do More"
Ini suatu peribahasa yang sangat terkenal. Terucap dengan mudahnya. Tersebar luas dengan ringan bagaikan benih dandelion yang ditiup angin senja. Namun, melakukan hal ini sama sulitnya dengan mengenyahkan prinsip (jika peribahasa tersebut selama ini bukanlah merupakan salah satu prinsip hidupmu). Dan yang lebih menyedihkan adalah bahkan mayoritas orang yang berkoar-koar mengenai hal ini adalah orang yang melakukan hal sebaliknya "Do Less Talk More". Betapa saya sangat menyayangkan hal itu. Marah, kesal, sedih, kasihan, sinis, sarkas, segala emosi itu campur menjadi satu. Seolah saya melihat salah satu pecahan cerminan saya yang telah hilang pada orang seperti itu.
Ya, saya pernah melakukan apa yang orang seperti itu lakukan. Hipokrit kan? Saya tidak akan menyanggahnya. Namun, saya mencoba untuk mengikis kebiasaan itu walau sebagai gantinya saya harus kehilangan kemampuan 'penunjukan simpati'. Itu tak mengapa. Karena sekarang saya sadar 'penunjukan simpati' mentah-mentah bukanlah apa yang menggambarkan diri saya (hipokrit, dingin, dan kejam).
Di samping itu, berkelanjutan dengan apa yang saya jabarkan di atas. Saya juga menyayangkan sikap orang yang berkata 'bijak' seolah itu prinsip hidup mereka namun pada kenyataannya mereka menyanggah perkataan mereka dalam sikap sehari-hari dan mereka dengan mudahnya kemudian mengakui hal tersebut. Itu sangat tidak termaafkan bagi saya. Kata-kata bijak itu bisa menjadi racun yang akan membunuh perlahan-lahan jika yang memberikannya bahkan tidak menggenggamnya lalu menghempaskannya ke dalam prinsip hidupnya. Kebaikan yang muncul dari sana mungkin memang tidak hilang, tapi ia telah kehilangan makna pentingnya.
Sama seperti ketika kau dikhianati.
Diantara semuanya, saya selalu tidak suka pengkhianatan. Itu menyakitkan. Kepercayaan yang terjalin dirusak dengan dingin, dirobek begitu saja, diinjak seolah tidak berharga. Kepercayaan yang menurut saya sebanding dengan kebaikan itu seharusnya tidak diperlakukan seperti mainan yang bisa dibuang (karena kepercayaan sebelum dikhianati tidak akan pernah rusak). Saya berpikir bahwa pengkhianatan bukan hanya sekedar ingkar janji, lalai tugas, tetapi lebih sederhana lagi... orang yang mengeluarkan kata-kata 'bijak' namun tak mampu untuk menjalankannya dalam kehidupan dirinya. Itu pengkhianatan. Terbesar.
Namun, saya hanya bisa berusaha memaklumi.
Menasehati? Tidak. Saya tidak akan melakukannya. Prinsip saya adalah apapun kebaikan itu... ada di dalam diri setiap orang (tanpa terkecuali), tinggal orang tersebut mampu atau tidak, mau atau tidak untuk bercermin pada diri dengan menanggalkan atribut-atribut yang 'dunia' berikan.
--dan akhirnya cawan diriku pun telah kosong--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar